Bismillahirrahmanirrahim,
Terik.
Alhamdullilah training sudah selesai pas jam sholat dzuhur. Training rutin ini memang sudah menjadi jadualku setiap awal bulan produksi. Agak bosan memang, bagaimana tidak, materinya sudah saya dapatkan selama satu semester di tempat kuliahku. Hahhhh…
“Bagaimana pak produksinya?”, tanya sang trainer setelah kami sholat dzuhur berjamaah. “Alhamdulillah lancar pak.” segera ku jawab pertanyaannya. Kemudian sambil diskusi tentang produksi tak sengaja disela-sela pembicaraanku terselip keluh tentang bos sang pemimpin sekaligus pemilik perusahaan ini yang sayangnya punya ego tinggi. Hampir tiap hari ada waktu berdebat dengan bos. Pemikiran kami sama tapi cara kami berbeda menyelesaikan masalah. Bos inginnya pekerja terus bekerja sambil berlari, sedangkan saya walau bagaimana pun mereka bekerja asal target tercapai bukan masalah.
“Jangan mengeluh pak”, katanya seraya menawariku minum teh botol.
Ambillah manfaat yang sebesar-besarnya di perusahaan bapak, dimana dan bagaimana pun tempat bapak sedang bekerja. Jikalau bapak bekerja santai pagi hari masih sempat baca koran, gunakanlah waktu bapak untuk memperlajari dan mengembangkan ilmu bapak. Waktu bekerja itu berharga loh pak.. Jadi walau bagaimana pun perusahaan dan bos bapak nantinya, misalnya sedang kolaps, bapak tidak merasa menyesal karena sudah memanfaatkan waktu yang berharga itu. Apalagi jika diterima ditempat lain, bapak pasti punya bekal pengalaman yang kompetitif karena pernah mengalami tekanan-tekanan masalah produksi. Saya yakin bapak pintar dalam menyelami karakter orang apalagi ini hanya seorang bos bukan dua orang bos, jadi tinggal kita pintar-pintar cari celah untuk meredam egonya.
Deg…
Hati ini langsung berdesir mendengar ucapannya yang sederhana itu. Ingatanku langsung melayang saat pertama kali ku diterima kerja di sebuah sekolah dasar islam terpadu yang punya banyak buku perpustakaan yang lengkap mengenai apa saja terutama islam, ah seandainya saja saya sadar waktu itu untuk banyak-banyak membaca selagi gratis, mungkin ilmu ini akan bertambah. Atau menambah hafalan saya yang maju-mundur. Waktu berharga itu jadi sia-sia.
Sungguh ‘agak’ menyesal. Pergi tanpa Ilmu.
Hari-hari pun berlanjut dengan keikhlasan. Nasihat trainer itulah yang membuatku bisa bertahan di perusahaan ini sampai dengan sekarang. Yang penting bagiku sekarang di perusahaan ini produksi lancar, anak buah lembur tapi tidak sampai ‘banting tulang’ dan laporan target tercapai. Tidak ada kata terlambat selagi jantung masih berdetak.
Ternyata… enak juga hari tanpa mengeluh.
(ini mah kisah suami
)
" width="16" height="18">
-" width="22" height="17">